Star Glam Jogja :

Melestarikan Wayang Potehi, Budaya yang Selalu Ada Saat Imlek di Ketandan

#

Source: indonesiakaya.com

Kebudayaan Tionghoa di Yogyakarta berkembang dengan baik dan menjadi harmoni yang indah di daerah ini sejak dulu. Tidak jarang, akan ditemukan beberapa Kawasan dengan corak Tionghoa yang kental. Salah satu yang terkenal ialah Kampung Ketandan. Kampung ini kerap kali disebut sebagai pecinan-nya Malioboro, sebab lokasinya memang berada di sana.

Kampung Ketandan memang bisa dibilang menjadi rumah bagi kebudayaan Tionghoa. Di area ini masih banyak ditemui masyarakat keturunan Tionghoa serta bangunan-bangunan khasnyapun masih kokoh berdiri. Di sini pula setiap tahunnya, saat Tahun Baru Imlek, diadakan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta atau PBTY.

PBTY biasanya akan diadakan setiap tahun dengan meriah. Ruas jalan Ketandan akan dibuka menjadi stand-stand makanan maupun kesenian khas Tionghoa. Pada PBTY ini, wayang potehi jadi satu diantara banyaknya kesenian yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Potehi berasal dari kata Poo (kain), Tay (kantong), dan Hie (wayang). Dari tiga kata itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa potehi adalah wayang tebuat dari kain atau kantong dan dimainkan menggunakan tangan. Wayang potehi dimainkan oleh seorang dalang dari balik bilik. Seperti pementasan wayang yang lain, wayang potehi juga diiringi dengan beberapa alat music seperti tambung, ge,bring besar dan kecil, rebab, ngok-ngok, juga terompet.


Source: nationalgeographic.grid.id

Setiap PBTY digelar, wayang potehi tidak pernah absen untuk meramakaikan festival yang diadakan setahun sekali ini. Secara tidak langsung, potehi menjadi ciri khas sendiri ketika Imlek datang di Kampung Ketandan. Kelompok yang biasanya akan turut meramaikan PBTY adalah Paguyuban Fu He An dari Jombang Jawa Timur.

Cerita yang dibawakan wayang potehi ini biasanya berasal dari kisah klasik legenda Tionghoa. Namun, perkembangan zaman, cerita yang diambil dari novel-novelpun mulai disukai oleh masyarakat. Bahasa yang digunakan juga kini sudah mengalami sedikit perubahan. Jika dulu hanya menggunakan Bahasa Mandarin saja, kini sudah dicampur dengan Bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan tidak semua orang bisa mengerti Bahasa Mandarin.

Wayang Potehi di era ini bukan hanya sekedar sebuah kebudayaan dari Tionghoa. Kini, wayang potehi sudah melebur dan membaur Bersama kebudayaan Indonesia. Dari situ, sudah semestinya bahwa wayang potehi harus dilestarikan, sama seperti kebudayaan lain yang ada. Setiap ceritanya memiliki makna yang baik sekaligus menjadi hiburan yang unik.

COMMENTS: (0)

Post You May Like